Sama tapi berbeda

Orang utan, ini kera, lihat tuh gak punya ekor...

Sampai sekarang, banyak wartawan sering salah dalam menuliskan istilah lingkungan hidup. Mereka tidak bisa membedakan kera dengan monyet, kura-kura dengan penyu. Di bidang flora, sampai sekarang banyak yang menyebut Rafflesia Arnoldi sebagai Bunga Bangkai.

Kekeliruan fatal itu, bisa dimaklumi, terjadi karena isu lingkungan hidup memang belum dianggap seksi untuk digarap serius. Ia masih kalah pamor dibanding hiruk-pikuk liputan politik dan hukum. Karena itu, hanya sedikit wartawan yang sudi mendalami masalah tersebut.

Akan tetapi, kesalahan-kesalahan penulisan nama itu tidak boleh dimaklumi. Ia bukan persoalan sepele karena bisa menyesatkan banyak orang. Memberikan informasi yang salah kepada publik merupakan dosa besar jurnalis.

Padahal, kesalahan tersebut bisa dihindari andai wartawan mau meluangkan sedikit waktu berselancar di internet, mencari bahan yang dibutuhkan. Agar hasil liputan menjadi akurat dan tidak mengecoh masyarakat.

Lutung, kalau yang ini monyet, lihat ekornya yang panjang…

Lutung, kalau yang ini monyet, lihat ekornya yang panjang...

Monyet (monkey) dan kera (ape), memang sama. Tetapi keduanya berbeda. Sama-sama masuk dalam ordo primata. Bedanya monyet punya ekor sedangkan kera tidak.

Kita, manusia, juga masuk dalam famili primata. Karena manusia tidak punya ekor, maka kita masuk kelompok kera, bukan monyet. Maka, kita marah kalau disebut “Monyet, lu!”. Sebab, kita memang bukan monyet, melainkan lebih mirip kera.

Dari cara berjalanpun berbeda. Monyet melangkah dengan keempat kakinya. Sedangkan kera dengan dua kaki. Lihatlah simpanse jinak, kera ini bisa berjalan sembari dituntun tuannya.

Termasuk golongan monyet di antaranya lutung, beruk, macaca pascicularis (monyet ekor panjang). Sedangkan yang masuk golongan kera, seperti siamang, simpanse, orang utan, dan gorila. Untuk usia harapan hidup, kera bisa mencapai umur 50 tahun sementara monyet cuma 25 tahun.

Ini kura-kura, lihat kakinya yang berkuku..

Ini kura-kura, lihat kakinya yang berkuku..

Sekarang kita lihat perbedaan penyu dan kura-kura. Orang Inggris menyebut reptil ini sebagai turtle. Ternyata orang Eropa juga kurang kreatif. Namanya dibuat sama, padahal cara hidup dan ciri fisiknya jelas-jelas berbeda.

Secara fisik, kura-kura dan penyu memang mirip. Masing-masing punya tempurung (kerapas) di punggungnya. Tetapi mereka berbeda. Kura-kura memiliki empat kaki bercakar. Ini membantunya berjalan di darat. Sebagai binatang ampibi, kura-kura memang lebih banyak hidup di darat.

Sedangkan penyu tidak punya kaki. Dia dibekali empat sirip yang membantunya berenang di laut lepas. Penyu memang hewan yang bisa hidup di dua alam, tetapi laut merupakan tempat hidup utamanya.

Ini penyu, itu bukan kaki tapi sirip

Ini penyu, itu bukan kaki tapi sirip

Dari segi ukuran fisik juga keduanya berbeda. Penyu punya tubuh lebih besar dibanding kura-kura. Dalam beberapa penemuan, penyu bisa memiliki tempurung sepanjang 2 meter dengan berat 900 kg.

Bandingkan dengan kura-kura, bahkan yang raksasa panjang tempurungnya cuma 130 cm dengan berat sekitar 300 kg. Kura-kura terkecil, pernah dijumpai di Afrika Selatan yang panjang kerapasnya cuma 8 cm dengan berat 140 gram.

Penyu dan kura-kura dipercaya sebagai kelompok reptil tertua, bahkan jauh lebih purba dibanding kadal dan ular. Mereka sudah menghuni planet ini sejak 215 juta tahun lalu. Sekarang tinggal bersisa sekitar 300 spesies yang tersebar di seluruh dunia dan umumnya terancam punah.

Rafflesia Arnoldi

Rafflesia Arnoldi

Berikutnya kita coba membedakan Rafflesia Arnoldi dan Bunga Bangkai. Sampai sekarang banyak orang menyebut Rafflesia Arnoldi sebagai Bunga Bangkai. Ini jelas kesalahan fatal. Mereka adalah dua bunga berbeda. Memang, semuanya hidup di habitat yang sama, yakni di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Di kawasan konservasi yang membentang dari Lampung hingga Bengkulu ini, tumbuh dua bunga yang unik dan langka. Yakni, Rafflesia Arnoldi dan Amorphophallus titanium. Rafflesia disebut-sebut sebagai bunga terbesar di dunia. Saat merekah sempurna, kelopaknya yang berwarna merah menyala bisa berdiameter 1 meter.

Amorphophallus titanium (Bunga Bangkai)

Amorphophallus titanium (Bunga Bangkai)

Sedangkan Amorphophallus titanium dipercaya sebagai bunga tertinggi di dunia. Amorphophallus inilah yang disebut Bunga Bangkai itu. Tingginya bisa mencapai 4 meter. Bandingkan dengan Rafflesia Arnoldi yang hanya setinggi setengah meter.

Rafflesia Arnoldi juga menebarkan aroma busuk dari kelopak bunganya. Tetapi pakar botani dan aktivis lingkungan hidup tidak pernah menyebut bunga ini sebagai bunga bangkai. Sebab, bunga bangkai sudah dipakai untuk menyebut Amorphophallus.

Tulisan ini tidak sama-sekali untuk menggurui. Saya percaya, banyak pembaca yang lebih cakap dari saya. Ini ikhtiar saya mengingatkan rekan-rekan jurnalis yang sekali tempo harus meliput isu lingkungan hidup agar memperhatikan sekali soal akurasi.

Sumber

http://wisata.kompasiana.com/2009/11/30/mereka-sama-tetapi-beda/

About judi2010

aku adalah sosok laki2 yang mengutamakan kedamaian dalam hidup dan matiku..aku gak ingin orang lain menangis karenaku..walau kadang karena sikapku terkadang membuat orang yang aku cintai menangis..tp semua aku lakukan demi orang2 yang memang pantas mendapatkan pengorbanan dari aku....karena aku mencintai "Cinta"
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s