Kualitas Dosen Indonesia Setara Guru SD

JAKARTA(SINDO) – Kualitas dosen dosen di Indonesia dinilai masih jauh di bawah standar. Bahkan,kualitasnya disejajarkan dengan guru SD.

Penilaian itu disampaikan pakar pendidikan dan guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof Dr HAR Tilaar. Menurut dia, dalam Undang- Undang (UU) 14/2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa para pendidik jenjang pendidikan dasar dan menengah harus memiliki pendidikan minimal sarjana (S-1).

Sementara untuk pendidikdijenjang pendidikanakademis S-1 sekurang-kurangnya bergelar magister (S-2). ”Begitu pun bagi program pascasarjana, pengajarnya harus bergelar doktor (S-3) dan profesor,” ujar Tilaar di Jakarta kemarin.

Namun, yang terjadi di Indonesia justru pengajar di perguruan tinggi hanya memiliki gelar sarjana saja. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa pemerintah dan pengelola perguruan tinggi telah melanggar UU. Pendapat ini didukung survei Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) pada Desember 2007–Februari 2008.

Dalam surveinya,APTISI menemukan bahwa 67% dosen hanya lulusan sarjana dengan kompetensi mengajar terbatas. Ketua APTISI Suharyadi mengatakan, kualitas dosen memang jauh di bawah standar. ”Pada 2009 nanti, ketika anggaran pendidikan sudah 20%,kita ingin ada perhatian lebih.

Pemerintah harus bertanggung jawab dan konsisten dalam menjalankan UU Guru dan Dosen,”tandasnya. Diketahui sebelumnya, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menyatakan lebih dari separuh dosen yang ada di Indonesia hanya memiliki pendidikan setingkat S-1.Padahal, standar untuk menjadi pengajar di perguruan tinggi harus memiliki pendidikan setingkat S-2.

Direktur Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas Muchlas Samani mengaku, 60.000 dari 120.000 atau 50,65% dosen tidak memenuhi syarat pendidikan minimal pengajar universitas.

Sementara itu,Ketua Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Prof Dr Soedijarto meminta pemerintah menetapkan regulasi dan ketentuan tegas agar perguruan tinggi dapat mensyaratkan pendidikan S-2 bagi pengajarnya.

”Sungguh memprihatinkan kalau sekarang ini ternyata mahasiswa kita diajar oleh dosen yang kemampuan dan kapasitasnya setara dengan guru SD, SMP, atau SMA,”tandasnya. Soedijarto mengungkapkan, di Eropa dan Amerika, seluruh dosen sudah berpendidikan hingga taraf doktor. ”Di sana, siswa SMA saja gurunya master.

Jika ini dibiarkan, sama saja pemerintah terus membuat daya saing perguruan tinggi kita rendah,” ujarnya. Koordinator Education Forum Suparman melihat rendahnya mutu dosen tidak lepas dari kondisi objektif perguruan tinggi. Secara umum, ujar dia, kondisi objektif perguruan tinggi di Indonesia masih jauh dari mutu yang ideal.

”Perguruan tinggi hanya melayani selera pasar tanpa memedulikan tugas utamanya sebagai institusi yang mengajarkan kebenaran, menemukan kebenaran, membangun nilai-nilai baru. Tiga tugas luhur itu sudah lama ditinggalkan perguruan tinggi,”tudingnya.

Hampir semua perguruan tinggi,kata Suparman,masih berorientasi sebagai ”perguruan tinggi tukang mengajar” yang tentu saja kegiatan rutinnya hanya pada transfer of knowledge dengan proses belajartatapmukadengankualitas pembelajaran ala kadarnya.

”Karena itu, sumber pendapatan adalah uang SPP (sumbangan penyelenggaraan pendidikan), SPI (sumbangan pengembanganinstitusi), BMOM (Badan Musyawarah Orangtua Mahasiswa), dan sejenisnya yangintinya sebetulnya adalah pemerasan kepada mahasiswa,” paparnya. (rendra hanggara)
Sumber : Koran Sindo
pertanyaannya apakah kenyataan ini yang membuat lemahnya daya saing sarjana-sarjana indonesia? lalu apakah ada hubungannya dengan tingginya angka penganguran?

About judi2010

aku adalah sosok laki2 yang mengutamakan kedamaian dalam hidup dan matiku..aku gak ingin orang lain menangis karenaku..walau kadang karena sikapku terkadang membuat orang yang aku cintai menangis..tp semua aku lakukan demi orang2 yang memang pantas mendapatkan pengorbanan dari aku....karena aku mencintai "Cinta"
This entry was posted in bukan politik and tagged , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Kualitas Dosen Indonesia Setara Guru SD

  1. ahmedtaopik says:

    Judulnya itu lho… Menyakitkan hati para guru SD . Ada linknya ga mas artikel ini?

  2. judi2010 says:

    maksud dan tujuannya bukan untuk menyakiti hati” pejuang-pejuan tanpa tanda jasa,atau guru-guru SD ” tapi lebih melihat ironi yang terjadi dinegeri kita..dimana menurut saya sudah terjadi carut marut dalam dunia pendidikan kita sedimikian rupa. Bahkan disalah satu kampus yg pernah saya “makan bangkunya” tempat saya mengambil S1 saya…saya harus dihadapkan pada kenyataan harus menimba Ilmu dari dosen yg lulus S1 tahun lalu…

  3. Alifia Alisarbi says:

    Benar, judulnya membuat saya tersentak. Sebegitu goblokkah saya yang guru SD ini.

  4. judi2010 says:

    wah…bisa jadi demo neh…tapi biar demonya lebih tertib dan pada tempatnya ini saya kasih linknya aja yah..he..he..
    tapi tetap berprasangka baik aja yah bapak/ibu guru…mungkin profesornya gak ada maksud kesitu…

    http://www.bnsp.go.id/default.asp?go=news&id=467

  5. Alifia Alisarbi says:

    heheh, gak ah. Masa gitu aja demo sih. Itu kan biasa media massa bikin judul yang ‘wah’ biar menarik perhatian. Tapi harusnya lebih hati-hati, jangan jadi rasanya mendiskreditkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s