Arsip untuk renungan kategori

Surat dari sahabat

Posted in motivasi, renungan dengan kaitan (tags) , , , , on September 25, 2009 by judi2010

love_letter_by_circle__of__fire

Kritik Anda adalah Kue Anda

‘Anda tidak berhak dipuji kalau tidak bisa menerima
kritikan’.” (Halle Berry, 2005)

Itulah kalimat dahsyat yang disampaikan Halle Berry,
artis peraih Oscar melalui film James Bond
‘Die Another Day’ di tahun 2004 ketika mendapat
piala Razzie Award.

Razzie Award adalah penghargaan yang diberikan
kepada mereka yang dinilai aktingnya buruk.
Label pemain terburuk ini didapatkan Halle setelah
memainkan perannya di film ‘Cat Woman’.

Ia adalah orang yang pertama kali langsung datang
ke tempat pemberian penghargaan tersebut.

Tidak ada Aktor dan Artis lain sebelumnya yang
sanggup datang dan hanya menyampaikan pesannya
melalui video.

Sambutannya sungguh menarik : “Saya menerima
penghargaan ini dengan tulus. Saya menganggap ini
sebagai kritik bagi saya untuk tampil lebih baik
di film-film saya berikutnya. Saya masih ingat pesan
ibu saya bahwa… ‘Kamu tidak berhak dipuji kalau
kamu tidak bisa menerima kritikan’.”

Tepukan tangan sambil berdiri sebagai bentuk
ketakjuban dari para hadirin sangat memeriahkan
malam itu. Ya, sangat sedikit orang yang sanggup
menerima kritikan seperti Halle.

Nah, sekarang, apa arti kritik bagi Judi? Apakah
itu musibah buruk? Seperti bencana yang tidak
terduga, atau… simbol kehancuran diri? Adakah
yang bisa menganggap kritik layaknya ia menerima
pujian?

Kritik memiliki banyak bentuk…

Kritik bisa berupa nasehat, obrolan, sindiran,
guyonan, hingga cacian pedas. Wajar saja jika
setiap orang tidak suka akan kritik.

Bagaimanapun, akan lebih menyenangkan jika
kita berlaku dan tampil sempurna, memuaskan
semua orang dan mendapatkan pujian.

Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa kita bisa
aman dari kritik? Tokh kita hanyalah manusia
dengan segala keterbatasannya. Dan nyatanya,
di dunia ini lebih banyak orang yang suka
mengkritik, daripada dikritik. :-)

Kalau Judi suka sepak bola, pasti sering
mengamati para komentator dalam mengeluarkan
pernyataan pedasnya.

Padahal belum tentu kepandaian mereka dalam
mengkritik orang lain sebanding dengan
kemampuannya jika disuruh memainkan bola
sendiri di lapangan. ;-)

Belum lagi para pakar dan pengamat politik,
ekonomi, maupun sosial. Mereka ramai-ramai
berkomentar kepada publik, seolah pernyataan
merekalah yang paling benar. :-)

Namun bukan itu permasalahannya!

Pertanyaannya sekarang adalah… seandainya
Judi mendapatkan kritikan, yang sakitnya melebihi
tamparan, apa yang harus Judi lakukan?

Jawabannya adalah…

=> Nikmatilah setiap kritikan layaknya kue
kegemaran kita!

Mungkinkah? Mengapa tidak! :-)

Kita mempunyai wewenang penuh untuk mengontrol
perasaan kita. Berikut tips untuk Judi saat
menghadapi kritik:

1. Ubah Paradigma Judi Terhadap Kritik

Judi, tidak sedikit orang yang jatuh hanya gara-gara
kritik, meski tidak semua kritik itu benar dan perlu
ditanggapi. Padahal, kritik menunjukkan adanya yang
*masih peduli* kepada kita.

Coba perhatikan perusahaan-perusahaan besar yang
harus mengirimkan berbagai survey untuk mengetahui
kelemahannya.

Bayangkan jika Judi harus melakukan hal yang sama,
mengeluarkan banyak uang hanya untuk mengetahui
kekurangan Judi! LoL. :-)

Kritik merupakan kesempatan untuk koreksi diri.
Tentu saja akan menyenangkan jika mengetahui
secara langsung kekurangan kita, daripada sekedar
menerima dampaknya, seperti dikucilkan misalnya.

2. Cari tahu sudut pandang si pengkritik

Tidak ada salahnya mencari tahu detil kritik yang
disampaikan. Judi bisa belajar dari mereka dan
melakukan koreksi terhadap diri Judi. Bisa jadi
kritik yang disampaikan benar adanya.

Jika perlu, justru carilah orang yang mau memberikan
kritik sekaligus saran kepada Judi. Tokh Judi tidak
akan menjadi rendah dengan hal itu. Justru sebaliknya,
pendapat orang bisa jadi membuka persepsi, wawasan,
maupun paradigma baru yang mendukung goal Judi.

3. Kritik tidak perlu dibalas dengan kritik!

Tanggapi kritik dengan bijak. Judi tidak perlu merasa
marah atau memasukkannya ke dalam hati. Toh
menyampaikan pendapat adalah hak semua orang.

Nikmatilah apapun yang mereka sampaikan. Tidak
ada ruginya untuk ringan dalam mema’afkan seseorang.
Anggaplah semua itu untuk perbaikan yang
menguntungkan Judi kelak.

Jangan pernah Judi balas kritik dengan kritik. Karena
hal ini hanya akan membuat perdebatan, menguras tenaga
& pikiran. Tidak ada gunanya…

Terimalah kritikan dengan senyuman. ^_^

Ini semua bisa melatih mental kita agar bisa *tegar*
menghadapi ujian yang lebih hebat di kemudian hari.

Singkatnya, kita memang hanya layak dipuji jika sudah
berani menerima kritikan. Meski tidak mudah, asah terus
keberanian Judi untuk menikmati kritik layaknya
menikmati kue Judi.

Ingat, pujian dan apresiasi hanya akan datang apabila
kita sudah melakukan sesuatu yang berharga. So, jangan
pernah bosan untuk memburu kritik, DAN tanggapilah
setiap kritik dengan lapang dada!



Anne Ahira

Pertapa Muda dan Kepiting

Posted in renungan dengan kaitan (tags) , , on Agustus 15, 2009 by judi2010

kepiting2minile4Suatu ketika di sore hari yang terasa teduh, nampak seorang pertapa muda sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai. Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar tidak beraturan.

Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya. Pertapa itu segera melihat ke arah tepi sungai di mana sumber suara tadi berasal. Ternyata, di sana nampak seekor kepiting yang sedang berusaha keras mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai sehingga tidak hanyut oleh arus sungai yang deras.

Melihat hal itu, sang pertapa merasa kasihan. Karena itu, ia segera mengulurkan tangannya ke arah kepiting untuk membantunya. Melihat tangan terjulur, dengan sigap kepiting menjepit jari si pertapa muda. Meskipun jarinya terluka karena jepitan capit kepiting, tetapi hati pertapa itu puas karena bisa menyelamatkan si kepiting.

Kemudian, dia pun melanjutkan kembali pertapaannya. Belum lama bersila dan mulai memejamkan mata, terdengar lagi bunyi suara yang sama dari arah tepi sungai. Ternyata kepiting tadi mengalami kejadian yang sama. Maka, si pertapa muda kembali mengulurkan tangannya dan membiarkan jarinya dicapit oleh kepiting demi membantunya.

Selesai membantu untuk kali kedua, ternyata kepiting terseret arus lagi. Maka, pertapa itu menolongnya kembali sehingga jari tangannya makin membengkak karena jepitan capit kepiting.

Melihat kejadian itu, ada seorang tua yang kemudian datang menghampiri dan menegur si pertapa muda, “Anak muda, perbuatanmu menolong adalah cerminan hatimu yang baik. Tetapi, mengapa demi menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting melukaimu hingga sobek seperti itu?”

“Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang benda. Dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih. Maka, saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa menolong nyawa mahluk lain, walaupun itu hanya seekor kepiting,” jawab si pertapa muda dengan kepuasan hati karena telah melatih sikap belas kasihnya dengan baik.

Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orang tua itu memungut sebuah ranting. Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting yang terlihat kembali melawan arus sungai. Segera, si kepiting menangkap ranting itu dengan capitnya. ” Lihat Anak muda. Melatih mengembangkan sikap belas kasih memang baik, tetapi harus pula disertai dengan kebijaksanaan. Bila tujuan kita baik, yakni untuk menolong mahluk lain, bukankah tidak harus dengan cara mengorbankan diri sendiri. Ranting pun bisa kita manfaatkan, betul kan?”

Seketika itu, si pemuda tersadar. “Terima kasih paman. Hari ini saya belajar sesuatu. Mengembangkan cinta kasih harus disertai dengan kebijaksanaan. Di kemudian hari, saya akan selalu ingat kebijaksanaan yang paman ajarkan.”

Sumber:

http://indoforum.org/showthread.php?t=39028

Tuhan dan kejahatan

Posted in renungan dengan kaitan (tags) , , , , on Agustus 6, 2009 by judi2010

kejahatan-dibalas-dgn-kebaikanSeorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini,

“Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab,

“Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.

“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab,

“Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.

Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,

“Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”.

“Tentu saja,” jawab si Profesor,

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya,

“Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Pertanyaan macam apa itu?

Tentu saja dingin itu ada.

Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab,

“Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut.Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

Mahasiswa itu melanjutkan,

“Profesor, apakah gelap itu ada?”

Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

Mahasiswa itu menjawab,

“Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya,

“Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang professor itu menjawab,

“Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,

“Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Sumber tulisan: blog sahabat

“Ani dan Boneka Dalam Kaca”

Posted in opini dan tulisanku, renungan dengan kaitan (tags) , , , , , on April 16, 2009 by judi2010

barbie-dollEntah mengapa siang ini panasnya begitu terik.  Sinar mata hari ingin seolah membakar kulit-kulit manusia yang siang ini sibuk dengan kebutuhannya mencari makan. tidak terkecuali bagi Ani seorang gadis kecil berusia sepuluh Tahun  yang berjalan dibelakang ibunya. Matanya bergerak kekiri dan kekanan seoalah-olah ada yg ingin dicarinya. Dan ” Huup”…diraihnya botol kemasan air mineral yg ada disamping. Tangan mungilnya yg legam terbakar matahari dengan cekatan memasukannya kedalam karung yg dibawanya sejak dari rumah. Ada senyum terhias dibibirnya ketika matanya beradu pandang dengan ibunya yg menoleh kebelakang melihat tingkahlakunya. Ibunya pun tersenyum.

Ya…Ani adalah seorang anak pemulung…Bersama ibunya kegiatan memulung adalah makanan sehari-hari selain nasi yg hanya ditemani lauk seadanya sebagai kegiatan tambahan. Memulung adalah kegiatan rutin seperti hal nya makan sehari-hari. Sedangkan makan nasi adalah kegiatan tambahan jika memang hari itu terkumpul uang untuk beli nasi untuk dimakan.  Yah..nasi adalah benda teristimewa buat ani dan ibunya. Dan Sang Ayah tidak lagi makan nasi karena telah tiada, sejak 4 tahun silam. Tewas terbunuh disebuah keributan “kecil” di warung remang-remang sehabis kalah berjudi.

Ani kini hanya hidup berdua dengan ibunya. Seorang ibu muda berusia 26 tahun. melahirkan Ani ketika berusia 16 tahun tanpa surat nikah. Tanpa restu orang tua, dan tanpa restu penghulu. Ani adalah anak pemulung yang lahir tanpa Akte lahir dan tanpa surat nikah ayah dan ibunya. Sekolah adalah barang mewah yg tidak mungkin bisa disentuhnya. bukan karena terhambat akte lahir, tapi karena memang tidak ada biaya untuk mengurus akte lahirnya…biaya sih ada..tapi sepertinya makan itu lebih penting. Namun bagi Sang ibu anak adalah anak, walau tanpa akte  lahir ataupun surat nikah sekalipun..! Rasa sayangnya terhadap Ani melebihi dari apapun yg ia miliki. Begipula dengan Ani, Ani juga Ani amat menyayangi ibunya . Karena ibunya adalah satu-satunya yg diingikannya. satu-satunya teman tidur yg selalu ingin dipeluknya.

Ketika matahari mulai redup dan condong kerah barat…Ani dan ibunya seperti biasanya duduk melepaskan lelah samping sebuah toko komputer.  Sambil berselonjor kaki sang ibu meletakan  karung yg dibawanya. Ani pun melakukan hal yang sama…tak lama kemudian Ani bangkit dan berlari menuju kesebuah toko mainan yg letaknya tidak jauh dari tempatnya melepaskan lelah bersama ibunya… matanya mulai berbinar ketika melihat kedalam toko mainan …”Mmm..masih ada..! gumannya secara lirih…cantik banget..iihhh…gemes deh..! . dipandanginya Boneka Barbie yang selama ini jadi kesukaannya…. boneka berambut pirang dengan busana bongkar pasangnya …boneka  bongkar pasang dengan model rambutnya. Gadis kecil mana yg tidak menyukai boneka seperti itu, gadis kecil mana yg tidak menghayalakan memiliki boneka itu. Semua gadis kecil pasti ingin  memiliki, tidak terkecuali Ani. Boneka adalah cinta. Lambang cinta seorang gadis kecil jika ia besar nanti. Boneka adalah perlambang harapan bagi gadis kecil seperti Ani. Bagaimana seorang gadis kecil mengidentifikasikan sesosok seorang ibu, memperlakukan anaknya. Ani ingin belajar seperti ibunya. Sepertinya ibunya mengendongnya..seperti ibunya memberikannya makan,..seperti ibunya yang selalu menemani disaat tidur… dengan boneka itu semua bisa diwujudkannya dalam dunia hayalnya. Tapi sepertinya Ani harus tahu diri , bahwa boneka itu mahal harganya untuk ekonomi sekelasnya. baginya uang sebesar itu bukankah sebaiknya digunakan untuk Makan atau bayar kontrakan?   Akhirnya ..Ani harus terima keadaan.

Tiba-tiba Ani tersentak ketika  seorang gadis  kecil bertopi dengan pita warna pink mengambil boneka yg ada didalam toko dengan kasarnya…”Mah..aku mau yg ini yah..aku mau yang ini…! aku mau yang ini…! rengek gadis itu didalam toko  pada ibunya suaranya terdengar lirih ditelinga Ani . Ani tercengang ketika  ibu gadis itu mengiyakan dengan mudahnya…sudah hampir sebulan lebih  Ani salalu berdiri didepan toko mainan itu sambil membayangkan cantiknya boneka Barbie itu,…ketika ada kesempatan melepas lalah bersama ibunya. Dan kini hanya dalam tempo kurang dari sepuluh menit seorang gadis kecil yang baru pertama kali dilihatnya dengan mudah meraih “Barbie yang selau diimpikannya”…Matanya mulai berkaca-kaca ketika pelayan toko memasukan boneka itu kedalam pembungkusnya, perlahan tapi pasti ada yang  terjatuh dari kelopak matanya..butiran-butiran air mata seolah tak bisa lagi dibendungnya…tak ada lagi mimpi tak ada lagi hayal…semua terampas pergi…kini jatuhlah air mata itu..

Air mata sang ibu pun tak kuasa menahan laju kesedihannya…sejak anaknya berdiri didapan toko mainan itu , sang ibu rupanya telah memperhatikannya tingkahlaku anak semata wayangnya. Ani.

Hati seorang ibu adalah memberi. memberi apa yang bisa ia beri. Tidak bisa memberi adalah kepahitan bagi seoarng ibu. Apalagi jika melihat ibu-ibu yang lain bisa memberi. Memberi sesuatu kepada Anaknya. Sesuatu yang jadi impian Buah hatinya.  Air matanya pun tak kalah seru berpacu dengan tangisnya….Dipeluknya Ani anaknya dengan kaharuan ..keharuan seorang ibu yang tidak bisa memberi…

Ani menoleh kearah dimana ibunya memeluknya…..ditatapnya dalam-dalam wajah ibunya….dengan bajunya yg lusuh dihapusnya butiran lembut yang mengalir dari mata ibunya…

“Mak..emak gak usah sedih…Ani nangis bukan gara-gara  ga bisa punya boneka itu..Ani nangis karena kasihan melihat boneka itu..Ani lebih senang melihat boneka itu ada dibalik kaca dari pada ada yang beli , trus dibawa pulang….kalau boneka itu ditaruh dalam kaca kan jadi gak cepet rusak dan kotor  yah mak  ?…

Ibunya pun tersenyum…dan mereka  segera pulang bersama terbenamnya matahari ….

makna cerita ini adalah :

“Terkadang lebih baik mengagumi sebuah permata dari balik kaca dari pada memilikinya yg pada akhirnya bisa membuat permata itu rusak dan terjatuh”

*cerita ini kutulis untuk seseorang di masalaluku.

Mas..mbak,Om Tante, kalau mau Copy paste silakan aja, gak usah minta  ijin, tapi jangan lupa yah tulis sumber kutipannya. -Judi-

Uang palsu dan pertolongan Tuhan

Posted in renungan dengan kaitan (tags) , , , on Maret 7, 2009 by judi2010

china_money_coins

Apa yang tidak mungkin bagi tuhan untuk umatnya?

Apa yang mustahil bagi tuhan untuk kasih sayangnya.

Dan apa yang mustahil bagi Tuhan untuk mengasihi umatnya yang mengasihi ciptaannya

Tahun 1983 adalah masa peperangan dimana Presiden Ciang Kai Sek masih menjabat sebagai komandan laskar yang bertempat di Nan-chang. Saat itu di sepanjang jalan terlihat para wanita yang sudah tua dan lemah duduk berjualan. Mereka menjual bermacam-macam kebutuhan tentara, seperti handuk dan kaus kaki. Biasanya para tentara pergi berbelanja pada jam-jam istirahat. Suatu hari ketika para tentara sedang berbelanja, tampaklah seorang nenek tua menangis terisak-isak di pinggir jalan. Ketika orang-orang bertanya mengapa ia menangis, ia mengatakan bahwa ada orang yang telah membeli banyak sekali barang dagangannya dengan uang palsu. Sang nenek baru menyadari bahwa itu adalah uang palsu, ketika pembelinya sudah pergi entah kemana. Seorang tentara yang sedang berbelanja merasa kasihan melihat nenek itu. Ia menghibur nenek itu sambil berkata, “Tenang saja, Nek. Kemarin saya terima gaji dan nenek boleh menukarkan uang palsu itu dengan yang asli. Saya bersedia menukarnya.” Nenek itu menjawab, “Tidak perlu. Kamu bukan orang jahat dan tidak bersalah atas kesialanku hari ini.” Tentara itu kemuidan menjawab, “Tidak apa-apa Nek..ambil saja sebagai ganti. Nenek lebih memerlukannya.” Sekalipun tentara itu membujuk nenek itu berkali-kali, namun tetap saja nenek itu menolaknya. Hingga akhirnya, ia tidak kuasa menolak tawaran tetantara baik hati itu. Beberapa waktu kemudian, tentara itu kembali berdinas di kota. Ia mencari nenek yang pernah ia tolong itu untuk menceritakan kisah yang dialaminya saat pertempuran. Di medan peperangan, ia berada di barisan depan dan sebuah peluru dari musuh menembus dadanya. Ia takut dan pingsan karena ia pikir ia sudah meninggal. Saat ia sadar, ia tidak merasakan apa-apa, bahkan darah pun tidak ada yang mengalir dari tubuhnya. Ia meraba kantong kirinya dan ia menemukan kepingan uang palsu tersebut telah rusak, cekung akibat hantaman peluru. Uang palsu itu telah menyelamatkan nyawanya. Kebaikan tentara ini telah kembali kepadanya. Ia membantu permasalahan seorang nenek dan melaluinya lah nyawanya dapat dipertahankan. Tidak ada kerugian dalam membantu sesama. Membantu/memberkati sesama akan mendatangkan kemurahan dan kebaikan bagi hidup kita. Tuhan mengajarkan kita untuk salling membantu menanggung beban sesama kita. Dengan kita berkorban membantu orang lain, kita menabur sebuah kebaikan. Taburan yang baik akan menghasilkan kebaikan berlipat kali ganda. Jangan ragu untuk saling memberkati karena Anda pun akan menuai apa yang Anda tabur dengan tuaian yang berlipat kali ganda.

Sumber petikan: Room Religi Indoforum.org

Nyanyian seorang kakak

Posted in renungan dengan kaitan (tags) , on Desember 5, 2008 by judi2010

images3kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee, USA. Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang kedua.

Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael, anaknya yg pertama, yang baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya di perut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih di perut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh di luar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinyabegitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen; bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi. Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya bila sewaktu-waktu dipanggil Tuhan.

Lain halnya dengan Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus! “Mami,… aku mau nyanyi buat adik kecil!” Ibunya kurang tanggap. “Mami, ….aku pengen nyanyi!” Karen terlalu
larut dalam kesedihan dan kekuatirannya. “Mami, ….aku kepengen nyanyi!” Ini berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung menangis.

Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak.Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup! Ia dicegat oleh suster di depan pintu kamar ICU. Anak kecil dilarang masuk!

Karen ragu-ragu. Tapi, suster…. suster tak mau tahu; ini peraturan! Anak kecil dilarang masuk! Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya: “Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya!” Suster terdiam menatap Michael dan berkata, “Tapi tidak boleh lebih dari lima menit!”

Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya…… lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring “…..You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey….” Ajaib! Si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya.
“You never know, dear, How much I love you. Please don’t take my sunshine away.”
Denyut nadinya menjadi lebih teratur.

Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan terus,….terus Michael! “Teruskan sayang!” bisik ibunya….
“The other night, dear, as I laid sleeping, I dream, I held you in my hands…..” dan……Sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang.
Pernapasannya lalu menjadi teratur…….. “I’ll always love you and make you happy, if you will only stay the same…….”
Sang adik kelihatan begitu tenang …. sangat tenang.
“Lagi sayang!” bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan…. adiknya kelihatan semakin tenang, relaks dan damai……. lalu tertidur lelap.

Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri.

Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yg satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mukjizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahipun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan “How much I love you”.

Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil seperti Michael untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagiNYA bila IA menghendaki terjadi. Nyanyian tulus membawa mukjizat.

Serigala

Posted in renungan dengan kaitan (tags) , , , on Oktober 12, 2008 by judi2010

suatu malam, seorang Ayah berkata pada anaknya mengenai pertempuran yang berlangsung didalam setiap diri insan manusia.
Ayah bijak itu berkata : “anakku, pertempuran didalam setiap diri manusia itu adalah ibarat perkelahian antara dua serigala”

Yang satu: Jahat.
penuh kemarahan, sirik, iri, dengki, kesedihan, penyesalan, serakah,
kesombongan, mengasihani diri sendiri, perasaan bersalah, rendah diri,
kebohongan, keangkuhan, merasa benar sendiri, nafsu, ego.

yang satunya lagi: BAIK.
yaitu: kebahagiaan, kedamaian, cinta, harapan, keteduhan, peri
kemanusiaan, kebaikan, empati, sedekah, kejujuran, tekad kesabaran,
dan kepercayaan.

anak nya berpikir sejenak, kemudian bertanya pada ayahnya.

“serigala mana yang akan menang ayah?”

sang Ayah dengan tenang menjawab:

“YANG KAU PELIHARA DAN KAU BERI MAKAN ITULAH SERIGALA YANG AKAN MENANG..!”

Wasiat untuk anakku..!

Posted in renungan dengan kaitan (tags) , , on Oktober 12, 2008 by judi2010

Anakku, Ketika aku sudah tua nanti, aku bukan lagi aku yang semula. Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku. Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku. Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku. Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku. Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku. Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat. Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka. Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan. Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku. Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.

haruskah seperti ini?

Posted in renungan dengan kaitan (tags) , on Oktober 11, 2008 by judi2010

ini sebuah kisah nyata tentang seorang anak yang berjuang keras menghidupi seorang ayah melalui tangan mungilnya…anak berusia 10 tahun

Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa. Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya. Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China. Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da.

Mengikuti kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita ini untuk melihat semangatnya yang luar biasa. Bagi saya Zhang Da sangat istimewa dan luar biasa karena ia termasuk 10 orang yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar manusia. Atau lebih tepatnya ia adalah yang terbaik diantara 140 juta manusia. Tetapi jika kita melihat apa yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan terus dia lakukan sampai sekarang (ia berumur 15 tahun), dan satu-satunya anak diantara 10 orang yang luarbiasa tersebut maka saya bisa katakan bahwa Zhang Da yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China.

Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya. Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.

ZhangDa Merawat Papanya yang Sakit.

Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.

Zhang Da menyuntik sendiri papanya.

Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru tahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik.

Aku Mau Mama Kembali.

Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, “Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!” Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu” Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, “Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!” demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.

Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu, saya pun tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat katabelece yang dipegangnya semua akan membantunya. Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Tidak semua orang bisa sekuat dan sehebat Zhang Da dalam mensiasati kesulitan hidup ini. Tapi setiap kita pastinya telah dikaruniai kemampuan dan kekuatan yg istimewa untuk menjalani ujian di dunia. Sehebat apapun ujian yg dihadapi pasti ada jalan keluarnya…ditiap-tiap kesulitan ada kemudahan dan Allah tidak akan menimpakan kesulitan diluar kemampuan umat-Nya. Jadi janganlah menyerah dengan keadaan, jika sekarang sedang kurang beruntung, sedang mengalami kekalahan…. bangkitlah! karena sesungguhnya kemenangan akan diberikan kepada siapa saja yg telah berusaha sekuat kemampuannya.

sumber :http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0607/22/125414.htm

Ibuku pembohong besar..!

Posted in renungan dengan kaitan (tags) , on September 7, 2008 by judi2010

Semenjak dulu aku paling benci dengan kebohongan..Dan siapa sangka ibu ku ternyata membesarkan aku dengan Kebohongan

aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan
saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi
nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
“Makanlah nak, ibu tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan
waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu
berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan
bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan
yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu,
ibu duduk disamping ku dan memakan sisa daging ikan yang masih
menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku
makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu
menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan
cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, ibu tidak suka makan
ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan
kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api
untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang
untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun
dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan
dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku
berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus
kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, ibu belum lelah” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,
ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama
beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah
selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah
disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental
tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.
Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk
ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, ibu tidak
haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,
dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita
pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat
kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati
yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar
maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat
kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk
menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan
nasehat mereka, ibu berkata : “Saya saya sudah bahagia hidup dengan anak-anak”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak
mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit
sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang
bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu
memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang
tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Ibu masih
punya uang kok,nak” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian
memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika
berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja
di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud
membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik
hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku ” Aduh nak, Ibu
tidak terbiasa hidup di Amerika” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker
lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di
seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk
ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya
setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku
dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya
terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas
betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat
lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air
mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti
ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis nak, ibu tidak apa-apa,nanti juga sembuh” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya dengan membawa semua kebohongannya dalam hidupnya

Stories from the Heart indoforum